Thursday, July 7, 2011

Kindly▲

Message.  
Sure you will like this place
  :  < www.tohebuy888.info
I got a Dell laptop here and very love it.
My friends,come here and take a look!
Best electronic products are waiting for you!
You will love here!
 
I recommend you a welcome website!

Monday, May 23, 2011

8*>0 @ order * 9

r really good news ! Last week, I order one Apple Laptop from
this website: <htbestmarket.com>
I've received the item today
It's amazing! The item is original, brand new and has high quality,
but it's much cheaper. I'm pleased to share this good news with you!
I believe you will find what you want there and have an good experience
on shopping from them. K H

Tuesday, November 17, 2009

Orang Buta Menuntun Orang Buta

Matius 15:14
Biarkanlah mereka itu. Mereka orang buta yang menuntun orang buta. Jika orang buta menuntun orang buta, pasti keduanya jatuh ke dalam lobang.

Tuhan Yesus berkata demikian untuk menggambarkan orang Farisi dan ahli Taurat dari Yerusalem. Mereka digambarkan sebagai orang buta karena telah melanggar perintah Allah demi adat istiadat nenek moyang.

Hari ini saya mendapat firman tentang tuntunan.

Tuntunan berkaitan dengan otoritas. Saat kita meminta tuntunan, kita harus meminta pada otoritas yang lebih tinggi dari kita. Ingat waktu jaman Orde Baru? Menteri Penerangan saat itu kerap mengucapkan 'mantera' "Sesuai petunjuk Bapak Presiden...". Itu adalah sebuah bentuk tuntunan. Sang menteri tahu bahwa otoritas presiden lebih tinggi darinya dan sewajarnya ia mengucapkan mantera tersebut saat menerangkan segala sesuatu kepada masyarakat.
Sebenarnya hal ini sudah diketahui banyak orang. Saat seseorang membutuhkan nasihat, pasti mereka mencoba mencari orang yang punya kemampuan "lebih" dibanding mereka.
Yang menjadi pertanyaan, apakah orang yang telah dipilih tersebut adalah orang yang tepat? Seringkali kita hanya mengandalkan indera perasaan manusia semata untuk menilai seseorang dan lupa untuk bertanya pada Roh Kudus yang telah Tuhan tempatkan dalam diri kita. Salah pilih hanya mengakibatkan kita seperti orang buta yang dituntun orang buta seperti ayat di atas.

Bagaimana cara supaya tidak salah pilih?
Kembali pada otoritas tertinggi dalam hidup kita. Dalam hal ini, saya mengatakan bahwa otoritas tersebut hanya ada dalam Tuhan Yesus Kristus.
Lalu bagaimana kalau kita membutuhkan nasihat lewat manusia? Ya tinggal cari orang yang memiliki Roh Kudus dari Tuhan dalam diri mereka. Untuk yang satu ini, tentu kita harus mengenal detail bagaimana hidup orang tersebut. Jangan sampai kita datang pada "orang Farisi" dan "ahli Taurat" yang hanya punya tampilan ketuhanan tetapi kosong di dalamnya. Mungkin ada orang yang terlihat begitu “indah” dengan segala tingkah lakunya. Tapi, apakah keindahan tersebut memang berasal dari hatinya?
Matius 15:19 menyatakan, “Karena dari hati timbul segala pikiran jahat, pembunuhan, perzinahan, percabulan, pencurian, sumpah palsu, dan hujat.” Tingkah laku dapat direkayasa manusia. Tetapi hati tidak bisa ditutupi.

Jadi, putuskan yang benar saat kita mencari tuntunan. Jangan cari dari "orang buta" karena mereka hanya akan membuat semua jatuh ke dalam lubang.
Dan sebaliknya, tuntunan yang benar akan membuat kita menjadi berkat bagi banyak orang.

Tuhan Yesus memberkati.

Monday, August 24, 2009

Siap Melayani Senantiasa

Semalam, seorang teman menelpon saya. Dengan nada yang tinggi, ia mengatakan bahwa betapa ia kecewa terhadap Tuhan. Begitu kecewanya sampai ia pun menyangkal keberadaan Tuhan. Bagi dia Tuhan adalah sebuah hal yang dipegang oleh orang yang sudah tidak memiliki pegangan apa pun. Dan orang-orang tersebut bukanlah “orang pintar”.
Saat itu, tidak banyak yang bisa saya katakan karena saya tidak siap. Saya hanya bisa mendengarkan ia berbicara dan melontarkan beberapa kalimat yang intinya Tuhan tidak akan pernah meninggalkannya. Tuhan itu setia. Walau demikian, teman saya ini bergeming. Dan tampaknya perkataan saya itu hanya seperti minyak yang dituang ke api.

Dari pengalaman tersebut, ada tiga hal yang saya dapatkan.
1. Bersiaplah senantiasa. Kita tidak tahu kapan Tuhan mengirim orang untuk dilayani. Yang pasti, waktu Tuhan adalah waktu yang tepat.
2 Timotius 4 : 2, “Beritakanlah firman, siap sedialah baik atau tidak baik waktunya, nyatakanlah apa yang salah, tegorlah dan nasihatilah dengan segala kesabaran dan pengajaran.”

2. Cepatlah mendengar dan lambatlah berkata-kata. Orang yang memiliki masalah dan ingin menceritakannya kepada orang lain cenderung untuk memonopoli pembicaraan. Biarkan hal itu berlangsung. Tidak semua masalah dapat diselesaikan dengan perkataan. Kadangkala kita harus diam mendengar dan membiarkan Tuhan yang bekerja.
Yakobus 1 : 19, “Hai saudara-saudara yang kukasihi, ingatlah hal ini: setiap orang hendaklah cepat untuk mendengar, tetapi lambat untuk berkata-kata, dan juga lambat utuk marah;

3. Pakai kata-kata yang tepat untuk berbicara. Kata yang tepat bukan berasal dari dalam diri kita. Kata itu harus berasal dari Roh Kudus. Lebih baik satu kata yang tepat daripada satu kalimat yang hanya memperkeruh suasana.
Amsal 25 : 11 “Perkataan yang diucapkan tepat pada waktunya adalah seperti buah apel emas di pinggan perak.”

Selamat melayani. Tuhan Yesus memberkati.

Monday, August 10, 2009

Mengerti Dengan Hati

Matius 13 : 1 – 23

Seberapa sering anda membaca atau mendengar firman Tuhan tetapi anda tidak dapat mengerti yang didengar atau dibacakan?

Kalau anda terlalu sering tidak mengerti apa yang anda baca atau dengar, maka anda harus berhati-hati. Apalagi kalau hidup anda tidak berubah menjadi selaras dengan firman Tuhan. Artinya “Si Jahat” telah bekerja dalam hidup anda dan anda tetap membiarkannya melakukan hal tersebut.

Tentu kita sudah sering mendengar perumpamaan ini. Seorang penabur menabur benih dan jatuh ke berbagai tempat yang berbeda. Di pinggir jalan, di tanah yang berbatu-batu, di tengah semak duri, dan di tanah yang baik. Hanya yang di tanah yang baik lah benih tersebut akhirnya berbuah; mulai dari tiga puluh kali lipat, enam puluh kali lipat, sampai seratus kali lipat. Sisanya? Tidak ada yang berbuah. Ada yang habis dimakan burung, tumbuh sesaat tetapi lalu mati karena tidak berakar, dan ada juga yang dapat tumbuh tetapi akhirnya mati juga karena dihimpit semak yang semakin membesar.

Apa artinya? Pasti kita sudah dapat membaca atau mendengar saat dikhotbahkan dari atas mimbar. Tetapi yang menjadi pertanyaan sekarang, apakah kita mengerti apa yang kita baca atau dengar tersebut?

Saya punya pengalaman dengan seorang karyawan saya. Saat mengoreksi pekerjaannya, secara jelas ia dapat membaca dan mendengar apa yang saya nyatakan. Beberapa saat kemudian, ia pun kembali kepada saya dengan pekerjaan yang “sudah ia perbaiki”. Dan saya mendapati kesalahan yang sama terulang. Ternyata, ia tidak mengerti apa yang saya katakan. Ia melihat dan mendengar, tetapi tidak mengerti.

Mengerti sering kali dikaitkan dengan nalar manusia. Tetapi dalam ayat yang kita baca, tersirat bahwa Tuhan ingin kita mengerti dengan hati. Mengapa? Karena hati memegang peranan penting dalam hidup orang percaya. Matius 15 : 18 – 19 menyatakan “Tetapi apa yang keluar dari mulut berasal dari hati dan itulah yang menajiskan orang. Karena dari hati timbul segala pikiran jahat, pembunuhan, perzinahan, percabulan, pencurian, sumpah palsu, dan hujat”. Matius 15 : 32 menyatakan karena hatiNya tergerak belas kasihan, maka Tuhan Yesus memberi makan empat ribu orang. Semua berawal dari hati. Dan itu juga alasan mengapa Tuhan menabur benih firman di hati manusia. Tuhan mau memperbaharui kita dari sumbernya. Kalau sumber air sudah jernih, maka air yang mengalir keluar juga sama.

Karena itu kita perlu kembali memeriksa keadaan hati kita. Apakah hati kita telah “menebal” sehingga benih tidak dapat masuk sehingga ia hilang begitu saja? Atau hati kita “menebal” dengan berbagai macam penindasan dan penganiayaan karena firman? Atau kekuatiran dunia dan tipu daya kekayaan menghalau benih itu berbuah? Hati yang menebal, telinga yang berat mendengar, dan mata yang melekat tertutup adalah penghalang bagi benih firman Tuhan untuk dapat tumbuh dan berbuah.

Sebagai sebuah awalan, periksa kembali hati kita saat-saat ini. Hilangkan rintangan yang membuat hati kita “tebal”. Ketika semua batu dan semak belukar telah kita hilangkan, jaga hati kita agar tetap menjadi tanah yang subur agar benih firman Tuhan dapat tumbuh dan berbuah. Dengan hati yang siap, kita dapat dengan mudah mengerti firman Tuhan. Dan dengan itu, tidak mustahil segala macam berkat Tuhan yang tidak kita pernah dengar atau lihat atau bayangkan akan terjadi dalam kehidupan kita.

Tuhan Yesus memberkati.

Monday, April 20, 2009

Pelayanan Kristiani

Shalom rekan-rekan.

Sabtu malam, saya sempat menyaksikan sebuah film seri jaman dulu di
stasiun tv lokal CTC channel. Judulnya 'Touched By An Angel'. Kalau
tidak salah, dulu sempat ditayangkan oleh TVRI atau kalau tidak RCTI
di era 80-an.

Film seri ini menceritakan dua malaikat yang ditugaskan ke dunia untuk
menyampaikan pesan Tuhan bagi orang-orang tertentu.
Nah, kemaren, film ini bercerita mengenai seorang tua bernama Sam. Ia
memiliki klub jazz bernama 'Indigo' dimana para tetua musik jazz dan
blues pernah bermain di sana. Beberapa orang diantaranya seperti Isaac
Hayes, Al Jerrau, dan B.B. King. Lewat beberapa masa, klubnya pun
mulai ditinggakan orang. Cucunya, bernama Isaac, yang tinggal di kota
lain datang untuk menjual klub tersebut dan membawa Sam tinggal di
panti jompo di kota lain. Tentu saja hal itu ditentang Sam. Apalagi
kedatangan Isaac berdekatan dengan 'Hot Mic Night' yang merupakan
acara regular pemusik yang menjadi ikon klub tersebut. Walau demikian,
Isaac bergeming. Ia mengadakan pertemuan dengan calon pembeli yang
ingin mendirikan tempat parkir tepat dimana klub itu berdiri.
Seperti disebutkan di atas, ada 2 malaikat yang menjadi inti cerita.
Malaikat yang satu lebih 'senior' dibanding yang lain. Malaikat yang
junior mendapat tugas untuk menyampaikan sesuatu kepada Sam. Dan
ternyata di tempat itu pun sudah datang malaikat kematian. Tampaknya,
waktu hidup bagi Sam telah berakhir. Tetapi sebelum itu, ada pesan
dari Tuhan yang harus disampaikan sebelum Sam menutup mata.
Dan di acara 'Hot Mic Night', yang dihadiri para legenda jazz, Sam
pergi meninggalkan dunia dan klubnya diteruskan oleh sang cucu -
Isaac.

Film ini sangat sarat pesan kristiani. Banyak pelajaran aplikasi
firman Tuhan secara praktis dalam kehidupan diperlihatkan di sini.
Dalam episode kali ini, pesan bagi Sam adalah hal yang membekas bagi
saya.
Sepanjang hidup Sam, ia hanya mengetahui soal musik. Secara konsisten,
ia berusaha menjadikan Klub Indigo menjadi tempat yang nyaman bagi
semua orang. Dengan tangan terbuka ia menerima mereka. Ia tidak
mempedulikan apakah tamu itu seorang pecundang atau bangsawan. Ia
hanya mau memberikan cinta nya bagi setiap tamu yang masuk ke dalam
ruangan klub jazz miliknya. Saat situasi berubah, dimana orang tidak
lagi mendengarkan Jazz, ia tetap berusaha keras menjalankan klub.
Untuk itu ia rela berhutang dan melakukan apa pun. Bukan karena
ambisinya tetapi karena kesetiaannya pada sebuah janji.
Pesan bagi Sam yang disampaikan oleh malaikat cukup singkat. Ia telah
setia mengisi klubnya dengan cinta sehingga semua orang yang berada di
dalamnya merasakan hal tersebut. Kesetiaan itu diganjar dengan upah di
Sorga yang melebihi harta dunia ini.

Hal itu yang membuat saya merenung 2 hal dalam sebuah pelayanan. Yang
pertama adalah 'warna' dan yang kedua adalah 'kesetiaan'.

Setiap pelayanan mempunyai 'warna'. Apa maksudnya warna? Warna adalah
satu ciri khas yang diberikan oleh pelayanan tersebut. Ini bukan
cerita bentuk atau media pelayanan tetapi lebih pada hal yang
tersirat. Bentuk dan warna pelayanan dapat diumpamakan seperti sebuah
permen. Bungkus permen adalah bentuk pelayanan dan rasa permen adalah
warna pelayanan tersebut.
Pernah memperhatikan bungkus permen? Biasanya bungkus permen
mencerminkan rasa yang dimilikinya. Itu mengapa permen coklat hampir
selalu mempunyai warna pembungkus yang senada coklat. Atau permen mint
punya pembungkus dengan warna hijau atau yang senada. Semua itu usaha
agar pembeli dengan mudah mengidentifikasi rasa apa di dalamnya.
Demikian pula sebuah pelayanan. Bersama teman gereja mengunjungi orang
sakit dapat dengan mudah diidentifikasi sebagai pelayanan kristiani.
Tergabung dalam komisi pemuda dan ikut paduan suara dapat dengan mudah
dikatakan sebagai pelayanan kristiani. Tapi, apakah pemutaran film
sekuler di sebuah gereja dapat dikatakan sebuah pelayanan kristiani?
Pelayanan kristiani dapat dikatakan kristiani apabila, minimal, ada
tanda buah Roh di dalamnya. Galatia 5 : 22 - 23 menyatakan buah Roh
adalah kasih, sukacita, damai sejahtera, kesabaran, kemurahan,
kebaikan, kesetiaan, kelemahlembutan, penguasaan diri. Warna inilah
yang minimal ada dalam setiap pelayanan kristiani.
Pelayanan paduan suara gereja, apabila tidak ada tanda buah Roh di
dalamnya, apakah ini tetap pelayanan kristiani? Atau kepengurusan
gereja, apabila di dalamnya tidak ada buah Roh, apakah ini sebuah
pelayanan kristiani?
Bentuk pelayanan kita bisa berbeda; baik itu dalam bentuk yang umum
dipakai gereja atau bentuk yang sangat sekuler. Tetapi kalau ada warna
buah Roh dalam pelayanan tersebut, maka itu adalah pelayanan yang
Tuhan inginkan.
Masalahnya, banyak orang hanya mempermasalahkan sebuah bentuk
pelayanan tetapi tidak mau merasakan warna apa di dalamnya. Karena itu
jangan heran apabila ada orang mempertanyakan pelayanan kita karena
mereka hanya melihat bungkus luarnya saja. Bagi mereka, bungkus permen
adalah harga mati untuk menilai rasa. Apakah mereka salah? Bagi saya,
orang-orang tersebut hanya melihat dari sisi lain yang tidak orang
lain lihat. Mereka tidak salah karena memang sebuah benda bisa dilihat
dari banyak sisi. Apa yang harus dilakukan bagi mereka? Berkoar-koar
menceritakan rasa permen hanya akan membuat kita kehabisan nafas.
Mungkin bisa, tetapi itu adalah hal yang sangat menguras energi. Yang
harus kita lakukan, tentu saja dalam konteks iman dalam Tuhan Yesus,
adalah minta hikmatNya - seperti Salomo meminta hikmat untuk
menyelesaikan permasalahan, demikian pula yang harus kita lakukan.
Jangan dengan emosi kita mengambil tindakan yang akhirnya hanya akan
membuat pelayanan berantakan. Ingat bahwa pelayanan kita adalah juga
melayani Tuhan. Buat apa kita merubah bentuk pelayanan demi memuaskan
manusia tetapi melupakan keinginan Tuhan? Yang terpenting adalah apa
yang Tuhan mau. Atau sederhananya 'WWJD' - What Would Jesus Do?
Apabila sebuah pelayanan telah Tuhan tetapkan menjadi bagian kita,
usaha manusia menentangnya pasti akan kandas karena Tuhan yang berdiri
sebagai pembela kita.

Hal yang kedua adalah kesetiaan. Saat badai cobaan atau pun kesukaan
datang menerpa pelayanan kita, apakah kita tetap setia pada apa yang
telah kita berikan bagi pelayanan tersebut? Ada saat dimana duka
menyelimuti pelayanan kita. Mereka yang tidak kuat bisa saja
kehilangan semangat sehingga warna dalam pelayanan tersebut hilang.
Kehilangan warna dalam pelayanan mengakibatkan pelayanan tersebut
menjadi hambar. Bagaimana warna tersebut dapat bertahan? Dengan
kesetiaan setiap pelayan yang ada di dalamnya. Satu hal yang harus
dicermati, saya tidak sedang bicara mengenai kesetiaan pada bentuk
pelayanan. Tetapi kesetiaan pada warna pelayanan. Paulus mengatakan
dalam I Korintus 9 : 19 - 23 bahwa ia seperti orang Yahudi untuk
memenangkan orang Yahudi dan ia pun seperti orang yang hidup di bawah
hukum Taurat untuk memenangkan mereka, dan seterusnya. Paulus mau
berubah-rubah 'bentuk' karena Injil dan supaya ia mendapat bagian di
dalamnya. Ia berusaha memenangkan banyak jiwa bagi Tuhan dengan tidak
terikat kepada sebuah bentuk. Satu hal yang pasti, seperti ia katakan
dalam ayat 21, bahwa walau ia menjadi seperti orang yang tidak hidup
di bawah hukum Taurat untuk memenangkan mereka, tetapi ia tetap hidup
di dalam hukum Kristus.
Inilah kesetiaan itu. Bukan kesetiaan yang terbatas hanya pada sebuah
bentukan tetapi jauh melampaui itu dimana tujuan sesungguhnya dari
pelayanan berada. Untuk melayani Tuhan dan sesama.

Selamat melayani. Tuhan Yesus memberkati.

Perbedaan Marta dan Maria

Berikut adalah petikan khotbah Pdp. DR. Janto Simkoputera MD.PhD di GBI Sukawarna-Bandung.

Walau Marta dan Maria sama-sama mengasihi Tuhan Yesus dan demikian sebaliknya, antara mereka berdua ada perbedaan di mata Tuhan. Perbedaan inilah yang akan dibahas kali ini.

Dalam Lukas 10 : 38-42 Tuhan Yesus datang ke Betania dan ia masuk ke rumah Marta, Maria, dan Lazarus. Marta sibuk melayani Yesus dan murid-muridNya sementara Maria hanya duduk di dekat kaki Yesus dan mendengarkanNya. Melihat hal tersebut Marta meminta Tuhan Yesus menyuruh Maria membantunya. Tetapi Tuhan malah menegur Marta.
Inilah perbedaan Marta dan Maria.
1. Keintiman dengan Tuhan (intimacy)
Dengan duduk dekat kaki Tuhan, Maria memperlihatkan bahwa ia mau intim dengan Tuhan.
Sementara Marta sibuk melayani hal-hal jasmani. Marta akhirnya hanya sibuk dengan banyak perkara dan itu membuatnya pusing.

2. Rendah hati (humble)
Yohanes 11 : 1 - 3, 6
Waktu itu Lazarus hampir mati. Maria dan Marta mengabari Yesus mengenai keadaan Lazarus. Tapi Tuhan dengan sengaja menunda sampai 2 hari, baru kemudian pergi ke Betania. Ia melakukan hal itu karena ada rencana luar biasa bagi Marta, Maria, dan Lazarus.
Setelah 2 hari terlambat, Yesus datang dan Lazarus telah mati. Marta segera pergi mendatangi Tuhan Yesus sementara Maria diam di rumah. Marta mengatakan bahwa Yesus datang terlambat dan Lazarus telah mati. Tapi Tuhan tidak menggubrisnya. Selang beberapa waktu, Maria menyusul Marta ke tempat Tuhan berada. Maria tersungkur dan menangis di depan kaki Yesus. Melihat hal tersebut, hati Tuhan pun masygul. Karena kerendahan hati Maria, Tuhan Yesus ikut menangis. Tuhan tergerak dan Ia pun membangkitkan Lazarus. Kita bisa membaca bagaimana Marta dan Maria berkata hal yang sama ketika Yesus datang saat Lazarus meninggal. Tetapi hati Tuhan hanya tergerak dengan tindakan Maria. Maria tersungkur di depan kaki Yesus. Ia menunjukkan kerendahan hatinya sehingga Tuhan mau segera turun tangan mengadakan mujizat.

3. Memberi yang terbaik (Giving the best)
Yohanes 12 : 1 - 5
6 hari sebelum Paskah, Marta, Maria, dan Lazarus mengadakan perjamuan bagi Yesus. Maria mengambil Minyak Narwastu yang mahal harganya untuk mencuci kaki Yesus dan menyeka dengan rambutnya. Maria seperti telah mendapat pewahyuan bahwa 6 hari ke depan Yesus akan mati. Sementara murid Yesus, Yudas Iskariot, tidak mendapat visi tersebut. Ia menganggap Maria melakukan hal yang tidak baik dengan memboroskan sesuatu yang berharga. Seperti Maria, apa kita mau memberikan yang terbaik bagi Tuhan menjelang kedatanganNya yang kedua?

Tuhan Yesus memberkati.